Habibi Ainun

Habibie dan 'Habibie'

Habibie dan ‘Habibie’

Gue merasa kesulitan untuk berkomentar tentang film ini secara objektif karena figur Pak Habibie. Kritikan mungkin akan terasa tidak enak karena kesantunan juga kecerdasan beliau. Jadi Gue fokus kepada pendapat tentang film Pak Habibie dan bukan tentang beliau sendiri. Gue mulai dengan hal positif dulu. Pertama adalah akting yang luar biasa dari Riza Rahardian dan Bunga Citra Lestari. Pak habibie tidak setinggi Riza namun pemeran Habibie di film ini dapat menggantikan Habibie di pikiran Gue selama menonton. Gerakan tubuh terutama ekspresi ketika berbicara, duduk bahkan saat marah. Bunga atau Bu Ainun di film juga memiliki akting yang sangat oke.

Sejujurnya Gue sulit menemukan hal lain yang keren dari film ini selain akting dua pemeran utama. Kata banyak orang kisah cinta Pak Habibie dan Bu Ainun sangat luar biasa namun jujur saja di film tidaklah begitu. Hal ini karena film ini terbagi dua dengan jelas dan kedua cerita itu tidak berhubungan dengan baik. Pertama adalah bagaimana Pak Habibie mengejar cita-citanya membuat pesawat dan kedua bagaimana beliau mendampingi Bu Ainun hingga meninggal. Ada sebuah kekurangan klasik di film – film Indonesia. Sangat detail di awal hingga tengah dan kemudian cepat di akhir. Begitu juga dengan Pak Habibie dan ambisinya di pesawat. Jujur saja Gue mengharapkan film ini berani mengungkap alasan mengapa N250 tidak jadi diproduksi lebih banyak lagi. Seperti film the king tentang raja inggris yang kecegukan, film tersebut sangat fokus kepada hal yang terkesan sederhana: kecegukan sang raja. Namun semua detail menuju kesana sehingga penonton dengan nikmat menangkap maksud dari film tersebut. Tiba-tiba saja N250 hanya diparkir hingga berdebu dan cerita beralih begitu saja ke penyakit Bu Ainun.
Masih tentang detail, awal film juga bagi Gue membingungkan. Mengapa diawali dengan Ainun yang bermain kasti? Mengapa Habibie muda disandingkan dengan Ainun yang menjelaskan tentang birunya langit secara fisika? Mungkin ini masalah selera tetapi menurut Gue detail awal film seharusnya sangat berhubungan dengan cerita utama. Jika Gue bisa mengubah awal film, mungkin Gue sedikit mengangkat kejeniusan Habibie dan kesantunan Ainun lalu ditutup dengan adegan ejekan Habibie terhadap Ainun. Dengan begitu, penonton yang tidak mengenal Habibie, jika ada, secara tidak sadar akan mengerti mengapa tiba-tiba cerita sudah beralih ke Pak Habibie yang pintar di Jerman.
Berhubung Gue belum juga mendapatkan hal kedua yang luar biasa dari film ini, mari membuat kesimpulan. Jika ini bukan film tentang Pak Habibie atau akting Riza Rahardian tidak sebagus itu mungkin film Habibie-Ainun tidak cukup keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s