Balita dan Kita

Gue hidup sehari-hari dengan melihat seorang balita. Namanya Keyla dan tentunya nona kecil yang manis ini bukan anak Gue. Keyla anak perempuan berusia satu tahun dari anaknya bibi kosan Gue.

Gue juga hidup sehari-hari dengan melihat pekerja. Gue sendiri juga pekerja sebagai konsultan dan tentunya berinteraksi dengan pekerja lainnya. Temen-temen Gue juga pekerja sepeti pekerja kantoran, freelance, pengusaha atau mahasiswa yang dulunya pekerja juga. Jadi Gue bisa bilang kita sebagai para pekerja.

Keyla dan juga balita lainnya itu bagi Gue pemberani. Ketika ditekan oleh orang tuanya, mereka speak up dengan nangis, teriak sambil mengeluarkan bahasa yang dia dan Tuhan yang mengerti. Kalau kita?

Balita seperti Keyla juga banyak mengalami hal-hal baru atau dengan penasaran mencoba hal-hal baru. Jujur saja Gue merasa mereka mencoba hal barutanpa rasa takut dan sekali lagi, jika tidak nyaman mereka bereaksi dengan semampunya. Terjatuh ketika berjalan mereka nangis dan berikutnya mencoba lagi. Kuping seorang balita sakit ketika naik pesawat maka mereka bereaksi dengan mengeluarkan suara yang membuat orang dewasa sekitar ingin melempar mereka dari pesawat. Kalau kita?

Tentunya Gue tidak bermaksud kita juga menangis seperti Keyla dan balita lainnya. Tidak ada yang mau melihat cowok kekar yang biasa fitnes dan makan protein berlebihan nangis gara-gara dimarahin atasannya. Apalagi jika atasannya wanita dan nangis terisak-isak di ruangan atasannya. Maksud Gue adalah kita bereaksi sesuai dengan opini kita. Jika atasan salah, sampaikan. Jika kita yang salah, minta maaf dan bertekad yang lebih baik lagi.

Begitu juga ketika mencoba hal baru. Jika merasa kurang nyaman akan sesuatu, expresikan dengan cerita atau apa gitu. Misalkan mencoba hobi baru seperti bersepeda di gunung. Jika sering jatuh, sampaikan ke teman sehobi. Mungkin ada tips atau koreksi dari mereka.

Speak up. 

Bayi jika tidak pernah nangis maka orang tuanya akan bingung dan mungkin begitu juga orang sekitar kita. Jika kita hanya diam, bisa jadi orang lain bingung atau tidak sadar sehingga jangan mengharapkan solusi.

Diam itu emas jika kita sedang mengontrol emosi dan berpikir yang terbaik sebelum menyampaikan atau bertindak. Karena emas itu material yang stabil dan tidak terpengaruh material lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s